jurnal coyyy

PENYILANGAN PUYUH JEPANG UNTUK MENDAPATKAN BIBIT UNGGUL

ARIS PURWANTORO & ARIANA

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada

Bibit puyuh yang unggul hanya dapat diperoleh dengan menyilangkan induk dan pejantan puyuh yang unggul pula. Sifat keunggulan keduanya tersebut diwariskan kepada keturunannya secara genetik lewat asam deoksiribo nukleat (DNA).

Puyuh albino dan puyuh berbulu coklat muda masing-masing sebanyak 40 dan 10 ekor disilangkan menggunakan prinsip X-linked inheritance. Puyuh tersebut mempunyai kemurnian 95%, produktivitas telur 81% dan mating rate 9 kali perhari. Puyuh tersebut menghasilkan telur fertil 83% untuk kemudian ditetaskan dan dibudidayakan yang berkelamin betinanya.

Keberhasilan penyilangan puyuh tersebut mencapai 93% dengan tingkat keakuratan penentuan jenis kelamin 87%. Bibit betina yang melewati fase plateau hanya mcngkonsunisi pakan 23,68 perhari sedangkan produktivitas telurnya 83%, sehingga berbeda nyata.

Kata kunci: penyilangan, puvuh Jepang, bibit unggul

PENDAHULUAN

Perumusan Masalah

Puyuh Jepang merupakan unggas penghasil telur yang semakin diminati untuk diternakkan. Data yang dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Peternakan (1999) menyatakan bahwa populasi puyuh secara nasional mengalami pertumbuhan 12,61%. Sebagai gambaran, populasinya di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapal 1,718; 2,308: 2,676; dan 2,803 juta ekor pada tahun 1995 hingga 1998.

Peternakan puyuh di DIY terbagi atas beberapa sentra ternak, meliputi Wedomartani, Piyungan. Sewon dan Srandakan. Setiap sentra dikelola oleh suatu kelompok peternak dengan jumlah anggota yang bervariasi. Pengurus kelompok tersebut bertugas menyediakan sarana produksi (meliputi bibit, pakan, obat dan vaksin) serta menyetor produknya berupa telur puyuh kepada pengumpul. Bibit puyuh dapat diperoleb dan pembibit skala kecil yang jumlahnya 7 buah, skala Sedang dan besar masing-masing I buah. Sarana-produksi lainnya berupa pakan, obat dan vaksin dapat diperoleh dari supplier, beberapa poultry shop, atau langsung dan pabrik nya via technical representative. Di DIY terdapat 2 pengusaha besar yang mampu menyuplai kebutuhan telur di propinsi ini, bahkan mcngirimkannya ke DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Kondisi pembibitan puyuh masih dikelola Secara konvensional. Pembibitan puyuh selama ini hanya mengandalkan pengetahuan yang didapat dan mulut ke mulut, sehingga tidak menerapkan prinsip genetika dan tidak pernah melakukan evaluasi terhadap bibit puyuh hasil produksinya.

Masalah yang dihadapi pengusaha pembibitan puyuh setelah diidentifikasi, dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Telur puyuh yang ditetaskan mempunyai angka tetas yang rendah.
  • Bibit puyuh yang berhasil ditetaskan memiliki angka kematian yang cukup tinggi,
  • Kesulitan menentukan jenis kelamin puyuh dengan cepat, sehingga puyuh jantan ini akan memboroskan pakan (puyuh Jepang diternakkan untuk memproduksi telur).
  • Puyuh yang berhasil ditetaskan memiliki postur tubuh yang besar, sehingga banyak mengkonsumsi pakan.

Tinjauan Pustaka

Puyuh jenis petelur yang banyak ditemakkan berasal dan Jepang (Coturnix Coturnix japonica) ini cepat berproduksi dan pada umur 42 hari sudah mulai bertelur. Produksi telurnya dapat mencapal 250-300 butir/tahun dengan bobot sekitar 10 gram (Anggorodi, 1995; Dark, 1985; Listyowati dan Roospitasari. 1997; Rahardja, 1987; Randall, 1986: Sutoyo, 1989).

Puyuh dewasa hanya memerlukan pakan berkadar protein sekitar 20% dengan energi metabolis 3000 kkal/kg (Ariana dkk., 1999; NRC, 1984: Vohra., 1971).

Daging puyuh bergizi tinggi dengan kadar protein 21,1% dan kadar lemak yang rendah, 7,7% (Listyowati dan Roospitasari, 1997; Rasyaf, 1989), sedangkan telurnya berkadar protein yang Iebih tinggi dibanding ayam ras, yakni 12,7% dan kadar lemaknya hanya 11,1% (Listyowati dan Roospitasari ,1997; Rasyaf. 1989). Rendahnya kadar lemak ini cocok untuk orang yang diet kolesterol (Kusumah, 1987).

Kadar amonia dan sulfida yang cukup tinggi menyebabkan feses puyuh juga dapat dipakai sebagai pupuk kandang yang baik (purwantoro. 2000).

Bentuk tubuhnya yang kecil menyebabkan puyuh hanya memerlukan kandang dan lahan yang lebih sempit serta pakan yang lebih sedikit dibanding unggas lainnya. sehingga sangat cocok bagi peternak pemula karena hanya memerlukan modal yang kecil (Riyanto, 1986: Soendjito, 1990).

Penyilangan Puyuh:

Bibit puyuh dapat diperoleh dengan penyilangan antara induk puyuh dan pejantan yang keduanya berkualitas unggul. Sifat keunggulan induk puyuh dan pejantan tersebut diwariskan kepada keturunannya lewat kode genetik yang terdapat dalam asam nukleat deoksiribosa (DNA) yang terangkai menjadi kromosom. Keturunannya akan mewarisi berbagai sifat dan induk dan pejantannya masing-masing 50% (Harti, 1991; Suryo, 1995).

Induk puyuh dan pejantan tersebut harus diseIeksi dengan benar, sehingga akan menghasilkan keturunan yang seragam dan murni. Kriteria untuk seleksi ini meliputi: tidak ada hubungan darah, sudah dewasa kelamin, fisik kuat dan sehat, produksi telurnya atau mating rate-nya tinggi (Hartl, 1991; Listyowati dan Roospitasari. 1991; Rasyaf, 1983; Suryo. 1995).

Setelah memperoleh induk puyuh dan pejantan yang berkualitas unggul. maka langkah berikutnya adalah menyilangkannya. Pcnyilangan puyuh mcnggunakan prinsip genetika, yakni X-linked inheritance menggunakan induk puyuh dan pejantan yang berbeda warna bulunya. sehingga dapat mudah mcnentukan jenis kelamin bibitnya dengan cepat dan akurat (Hartl, 1991; Suryo. 1995).

Dan penyilangan tersebut di atas akan didapatkan telur. Telur tersebut selanjutnya akan ditetaskan untuk menghasilkan bibit puyuh. Telur tersebut di seleksi berdasarkan kriteria; fertil, umur kurang dari 14 hari, ukuran normal, bentuk tidak bulat atau oval dan bersih (Imanah dan Maryam, 1996; Miller dan Wilson, 1976; Rasyaf, 1983; Sudaryani, 1996).

Penetasan telur puyuh dapat mencapai hasil yang maksimal bila memperhatikan beberapa faktor, meliputi: sanitasi, suhu, kelembaban dan mesin penetas serta pemutaran dan peneropongan telur (lmanah dan Maryam, 1996; Listyowati dan Roospitasari, 1997; Soedjarwo, 1999).

Keunggulan bibit puyuh yang dihasilkan dan penetasan di atas dapat dievaluasi dengan beberapa parameter, di antaranya kebutuhan pakan dan produksi telur. Kedua parameter ini diukur sctelah puyuh tumbuh maksimal dan mencapal fase konstan (plateau) (Ariana dkk., 1999; Purwantoro dkk., 2000; 2001 dan 2002).

Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang akan dicapai dari kegiatan penyilangan puyuh Jepang ini secara spesifik adalah menghasi[kan bibit puyuh yang berkualitas unggul dengan kriteria:

  • produksi telurnya Iebth tinggi
  • angka kcmatiannya lebih rendah
  • mudah menentukan jems kelamin
  • postur tubuhnya lebib kecit dibandingkan dengan induk dan/atau pejantan puyuh.

Manfaat kegiatan Pencrapan Ipteks ini bagi khalayak sasaran (terutama pengusaha pembibitan puyuh) setelah kegiatan selesai, ditinjau dari:

Sisi Ekonomi:

  • semakin banyak telur fertil yang ditetaskan,
  • semakin cepat menjual bibit puyuh betina yang harganya 3-4 kali lebih mahal dibanding yang jantan.
  • semakin menghemat kebutuhan pakan karena lebih cepat diketahui jenis kelaminnya dan dikarenakan postur tubuh yang lebih kecil.

Sisi Ipteks:

  • diterapkan metode untuk pembentukan galur murni untuk induk puyuh dan pejantan,
  • diterapkan metode untuk pemilihan telur yang fertil dengan benar,
  • diterapkan metode penyilangan puyuh yang benar berdasar pnnsip genetika,
  • diterapkan metode penentuan jenis kelamin bibit puyuh yang lebih cepat.

METODE

Bibit puyuh yang unggul hanya dapat diperoleh dengan menyilangkan induk puyuh dan pejantan yang keduanya berkualitas unggui. Sifat keunggulan induk puyuh dan pejantan tersebut diwariskan kepada kcturunannya

lewat kode genetik yang terdapat dalam asam nukleat deoksiribosa (DNA) yang terangkai menjadi kromosom. Keturunannya akan mewarisi berbagai sifat dan induk dan pejantannya masing-masing 50% (Hartl, 1991; Suryo, 1995).

Untuk memecahkan masalah seperti tersebut di atas, maka dapat direalisasikan suatu kegiatan yang terdiri atas beberapa tahapan, yakni:

  • Pemilihan induk puyuh dan pejantan dengan benar, meliputi: tidak ada hubungan darab, bergalur murni, sudah dewasa kelamin, fisik kuat dan sehat, produksi telur dan mating rare–nya tinggi (Haiti, 1991; Listyowati dan Roospitasari, 1997; Rasyaf, 1983; Suryo, 1995).
  • Pemilihan telur yang akan ditetaskan Secara benar, mencakup; telur harus fertil, umur telur kurang dart 14 han, ukuran telur normal, bentuk telur tidak bulat atau oval, kebersihan telur (lmanah dan Maryam, 1996; Miller dan Wilson, 1976; Rasyaf, 1983; Sudaryani. 1996).
  • Penetasan telur dengan benar meliputi: sanitasi, suhu, kelembaban dan mesin penetas serta pemutaran dan peneropongan telur (Imanah dan Maryam, 1996, Listyowati dan Roospitasari, 1997; Soedjarwo, 1999).
  • Prinsip genetika berupa X-linked inheritance dapat diterapkan untuk menyilangkan puyuh Jepang yang berbeda warna bulunya, sehingga akan mudah dalam menentukan jenis kelamin bibitnya (Haiti, 1991; Suryo, 1995).
  • Penyilangan antara puyuh Jcpang jenis albino dengan puyuh Jepang berbulu coklat muda dilakukan untuk mendapatkan puyuh berpostur tubuh sedang dan produksi telurnya tctap tinggi (Grzimek, 1972; Listyowati, 1997; Sudaryanti dan Santosa, 1999).
  • Evaluasi kebutuhan pakan dan produksi telur dilakukan dengan benar pada saat bibit puyuh melewati pertumbuhan maksimum dan telah konstan (Ariana dkk., 1999; Purwantoro dkk., 2000, 2001 dan 2002).

Khalayak sasaran pada kegiatan ini dipilih atas dasar kriteria yang strategis (mampu dan mau) serta dapat menyebarluaskan hasil kegiatan ini pada anggota khalayak sasaran yang lain. Berdasarkan kriteria tersebut di atas, maka sasaran yang dilibatkan pada kegiatan penyilangan puyuh Jepang ini adalah perusahaan pembibitan puyuh milik Bapak Hidayatulloh yang berlokasi di Kelurahan Jejeran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul dan milik Bapak Gandung yang berlokasi di Kclurahan Suryodi n ingra tan, Kecamatan Mantrijeron, Kotamadya Yogyakarta. Kedua tempat pembibitan tersebut berada di propinsi DIY.

Metode yang digunakan pada kegiatan ini secara garis besar adalah sebagai berikut:

  • Seleksi induk puyuh dan pejantan yang bergalur murni dan tempat pembibitan terpisah untuk menghindari inbreeding.
  • Seleksi induk puyuh dan pejantan yang berkualitas unggul.
  • Seleksi telur puyuh yang fertil dengan benar.
  • Penyilangan puyuh dengan benar.
  • Penentuan jenis kelamin bibit puyuh dengan cepat.
  • Evaluasi kebutuhan pakan dan produksi telur dengan cermat

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyilangan Puyuh

Pada kegiatan ini puyuh disilangkan menggunakan prinsip genetika berupa X-linked inheritance pada puyuh Jepang yang berbeda wama bulunya. Hal ml sesual pendapat Hartl (1991) dan Suryo (1995). sehmgga akan mudah dalam menentukan jenis kelamin bibitnya.

Pada kegiatan ml disilangkan antara puyuh Jepang jenis albino dengan puyuh Jepang berbulu cokiat muda. Hal ini dilakukan agar diperoleh bibit puyuh berpostur tubuh sedang dan produksi telurnya tetap tinggi seperti dikemukakan oleh Grzimek (1972); Listyowati dan Roospitasari (1997); serta Sudaryani dan Santosa (1999).

Induk Puyuh dan Pejantan

Pada kegiatan ini digunakan induk puyuh dan pejantan masing-masing sebanyak 40 dan 10 ekor, yang dipilih secara acak dan peternakan mitra kerja dengan memperhatikan berbagai faktor penyilangan puyuh tersebut di atas.

Kepada puyuh tersebut kemudian dilakukan adaptasi selama 2 minggu. Dan hasil pengamatan saat adaptasi dan recording peternakan, diperoleh hasil sebagai berikut: kemurniannya 95%, produksi telurnya 81%, mating rate-nya 9 kali/hari, sehingga puyuh tersebut memenuhi syarat sebagai induk puyuh dan pejantan karena memenuhi kriteria yang dikemukakan oleh Hartl (1991); Listyowati dan Roospitasani (1997); Rasyaf (1983); serta Suryo (1995).

Telur Puyuh

Telur yang diproduksi oleh induk puyuh dipilih yang fertil agar dapat menghasilkan bibit puyuh bila ditetaskan. Kriteria lainnya dalam pemilihan telur ini adalah umur kurang dari 14 hari, ukuran normal, bentuk tidak bulat atau oval serta bersih sesuai pendapat Imanah dan Maryam (1996); Miller dan Wilson (1976); Rasyaf (1983); serta Sudaryani (1996). Pada kegiatan ini telur fertil yang diproduksi mencapai 83%.

Penetasan Telur

Telur fertil yang dihasilkan kemudian ditetaskan menggunakan mesin tetas. Pada kegiatan ini proses penetasan telur dilakukan mengikuti teknik yang benar, dengan memperhatikan faktor sanitasi, suhu, kelembaban dan mesin penetas, serta pemutaran dan peneropongan telur seperti yang dianjurkan oleh Imanah dan Maryam (1996); Listyowati dan Roospitasan (1997); serta Soedjarwo (1999). Pada kegiatan ini keberhasilan penetasan puyuh mcncapai 93%.

Bibit Puyuh

Bibit puyuh yang diperoleh dan hasil penetasan kcmudian dilakukan sexing. Pada kegiatan ini tingkat keakuratan penentuan jenis kelamin tersebut mencapai 87%.

Bibit puyuh yang berkelamin betina selanjutnya dibudidayakan sampal dewasa untuk diamati konsumsi pakannya dan produktivitas telurnya.

Produktivitas puyuh

Pada kegiatan ini puyuh betina diamati produktivitas telur dan konsumsi pakannya setelah melewati fase plateau. Puyuh tersebut hanya mengkonsurnsi pakan 23,68 g/hari. dan produktivitas telurnya rnencapai 83%, Sehingga berbeda nyata (P<0,05) bila dibanding dengan induknya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pada kegiatan ini telah berhasil disilangkan antara puyuh Jepang jenis albino dengan puyuh Jepang berbulu cokiat muda menggunakan prinsip X-linked inheritance. Induk puyuh dan pejantan yang digunakan mempunyai kemurnian 95%, produksi telur 81% dan mating rate-nya 9 kali/hari. Keberhasilan penyilangan puyuh ml mencapal 93%, dengan telur fertil yang diha.silkan sebanyak 83%, serta keakuratan penentuan jenis kelarnin bibitnya sampai 87%. Puyuh betina yang telah mencapal fase plateau hariya mengkonsumsi pakan 23,68 g/hari dan produktivitas telurnya mencapai 83%, sehingga berbeda nyata (P<0,05) bila dibanding dengan induknya.

Saran

Keberhasilan penyilangan puyuh tersebut perlu ditindakianjuti dengan produksi bibit dalarn jumlah yang besar, sehingga peternak akan meningkat pendapatannya karcna konsumsi pakannya lebih sedikit. tetapi produktivitas tclurnya lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, H.R. (1995). Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Jakarta: Gramedia.

Ariana, Purwantoro, A. dan Pangestiningsih. T.W. (1999). Pakan Alternatif Puyuh di Saat Krisis Monerer. Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi tahun 1999-2000. Jakarta: Dirjen Dikti.

Dark, J. (1985). Quail Raising 2: Growing and Processing. Melbourne: Department of Agriculture.

Ditjennak (Direktorat Jenderal Peternakan). (1999). Buku Statistik Peternakan 1999. Jakarta: Ditjennak RI.

Grzimek, B. (1972). Animal Life Encyclopedia. New York: van Nostrand Reinhold.

Hartl, D.L. (1991). Basic Genetics 2 ed. Boston: Jones and Bartlett.

Imanah dan Maryam. (1996). Pembuatan Mesin Tetas dengan Cahaya Matahari dan Pemeliharaan Ayam. Pekalongan: Bahagia.

Kusumah. N. (1987). Telur Puyuh Baik untuk Orang yang Diet Kolesrerol. Poultry Indonesia no. 20.

Listyowati, E dan Roospitasari. K. (1997). Puyuh, Tata Laksana Budidaya secara Komersial. Jakarta: Penebar Swadaya.

Miller E.R dan Wilson, H.R. (1976). Selecting Fertile Quail Eggs. Pultry Sci. 55: 2476.

NRC (National Research Council). (1984). Nutrient Requirements of Poultry, 6 ed. Washington D.C.: National Academy Press.

Purwantoro, A. (2000). Pengaruh Penambahan Pro biotik pada Pakan Puyuh terhadap Kadar Amonia dan Sulfida Faeces serta Produktivitas Puyuh (Coturnix coturnix japonica). Laporan Penelitian Yogyakarta: DIKS UGM

Purwantoro, A. (2001). Pengaruh Kadar Protein Pakan terhadap Produktivitas Puyuh Jepang. Laporan penelitian. Yogyakarta: DIKS UGM.

Purwantoro, A., T. Susmiati. R. Widayanti, A. Haryanto dan Ariana. (2001). Penggabungun Kandang Puyuh Fase Grower dan Finsher. Proyek Pengabdian Masyarakat. Yogyakarta: UGM.

Purwantoro. A. (2002). Beternak Puyuh secara Komersial. Modul pelatihan kewirausahaan. Yogyakarta: LPM UGM.

Rahardja, P.C. (1987). Beternak Puyuh. Jakarta: Penebar Swadaya.

Randall. M.C. (1986). Raising Japanese Quail. Seven Hills: NSW Dept of Agriculture.

Rasyaf, M. (1989). Memelihara Burung Puyuh, Yogyakarta: Kanisius.

Riyanto, S. (1986). “Masa depan perkembangan burung puyuh di Indonesia”. Ayam dan Telur no. 4

Soedjarwo, E. (1989). Membuat Mesin Tetas Sederhana. Jakarta: Penebar Swadaya.

Soendjito. (1990). “Puyuh lebih menguntungkan”. Ayam dan Telur no. 51.

Sudaryani, T. (1996). Kualitas Telur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Suryo, H. (1995). Genetika. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.

Sutoyo, M.D. (1989). Petunjuk Praktis Beternak Puyuh. Jakarta: Titik Terang.

Vohra, P. (1971). “A review of the nutrition of Japanese quail”. Worlds Poultry Sci Journal, 1: 26-33.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: