jurnal coyyy

December 28, 2009

PENYILANGAN PUYUH JEPANG UNTUK MENDAPATKAN BIBIT UNGGUL

ARIS PURWANTORO & ARIANA

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada

Bibit puyuh yang unggul hanya dapat diperoleh dengan menyilangkan induk dan pejantan puyuh yang unggul pula. Sifat keunggulan keduanya tersebut diwariskan kepada keturunannya secara genetik lewat asam deoksiribo nukleat (DNA).

Puyuh albino dan puyuh berbulu coklat muda masing-masing sebanyak 40 dan 10 ekor disilangkan menggunakan prinsip X-linked inheritance. Puyuh tersebut mempunyai kemurnian 95%, produktivitas telur 81% dan mating rate 9 kali perhari. Puyuh tersebut menghasilkan telur fertil 83% untuk kemudian ditetaskan dan dibudidayakan yang berkelamin betinanya.

Keberhasilan penyilangan puyuh tersebut mencapai 93% dengan tingkat keakuratan penentuan jenis kelamin 87%. Bibit betina yang melewati fase plateau hanya mcngkonsunisi pakan 23,68 perhari sedangkan produktivitas telurnya 83%, sehingga berbeda nyata.

Kata kunci: penyilangan, puvuh Jepang, bibit unggul

PENDAHULUAN

Perumusan Masalah

Puyuh Jepang merupakan unggas penghasil telur yang semakin diminati untuk diternakkan. Data yang dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Peternakan (1999) menyatakan bahwa populasi puyuh secara nasional mengalami pertumbuhan 12,61%. Sebagai gambaran, populasinya di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapal 1,718; 2,308: 2,676; dan 2,803 juta ekor pada tahun 1995 hingga 1998.

Peternakan puyuh di DIY terbagi atas beberapa sentra ternak, meliputi Wedomartani, Piyungan. Sewon dan Srandakan. Setiap sentra dikelola oleh suatu kelompok peternak dengan jumlah anggota yang bervariasi. Pengurus kelompok tersebut bertugas menyediakan sarana produksi (meliputi bibit, pakan, obat dan vaksin) serta menyetor produknya berupa telur puyuh kepada pengumpul. Bibit puyuh dapat diperoleb dan pembibit skala kecil yang jumlahnya 7 buah, skala Sedang dan besar masing-masing I buah. Sarana-produksi lainnya berupa pakan, obat dan vaksin dapat diperoleh dari supplier, beberapa poultry shop, atau langsung dan pabrik nya via technical representative. Di DIY terdapat 2 pengusaha besar yang mampu menyuplai kebutuhan telur di propinsi ini, bahkan mcngirimkannya ke DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Kondisi pembibitan puyuh masih dikelola Secara konvensional. Pembibitan puyuh selama ini hanya mengandalkan pengetahuan yang didapat dan mulut ke mulut, sehingga tidak menerapkan prinsip genetika dan tidak pernah melakukan evaluasi terhadap bibit puyuh hasil produksinya.

Masalah yang dihadapi pengusaha pembibitan puyuh setelah diidentifikasi, dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Telur puyuh yang ditetaskan mempunyai angka tetas yang rendah.
  • Bibit puyuh yang berhasil ditetaskan memiliki angka kematian yang cukup tinggi,
  • Kesulitan menentukan jenis kelamin puyuh dengan cepat, sehingga puyuh jantan ini akan memboroskan pakan (puyuh Jepang diternakkan untuk memproduksi telur).
  • Puyuh yang berhasil ditetaskan memiliki postur tubuh yang besar, sehingga banyak mengkonsumsi pakan.

Tinjauan Pustaka

Puyuh jenis petelur yang banyak ditemakkan berasal dan Jepang (Coturnix Coturnix japonica) ini cepat berproduksi dan pada umur 42 hari sudah mulai bertelur. Produksi telurnya dapat mencapal 250-300 butir/tahun dengan bobot sekitar 10 gram (Anggorodi, 1995; Dark, 1985; Listyowati dan Roospitasari. 1997; Rahardja, 1987; Randall, 1986: Sutoyo, 1989).

Puyuh dewasa hanya memerlukan pakan berkadar protein sekitar 20% dengan energi metabolis 3000 kkal/kg (Ariana dkk., 1999; NRC, 1984: Vohra., 1971).

Daging puyuh bergizi tinggi dengan kadar protein 21,1% dan kadar lemak yang rendah, 7,7% (Listyowati dan Roospitasari, 1997; Rasyaf, 1989), sedangkan telurnya berkadar protein yang Iebih tinggi dibanding ayam ras, yakni 12,7% dan kadar lemaknya hanya 11,1% (Listyowati dan Roospitasari ,1997; Rasyaf. 1989). Rendahnya kadar lemak ini cocok untuk orang yang diet kolesterol (Kusumah, 1987).

Kadar amonia dan sulfida yang cukup tinggi menyebabkan feses puyuh juga dapat dipakai sebagai pupuk kandang yang baik (purwantoro. 2000).

Bentuk tubuhnya yang kecil menyebabkan puyuh hanya memerlukan kandang dan lahan yang lebih sempit serta pakan yang lebih sedikit dibanding unggas lainnya. sehingga sangat cocok bagi peternak pemula karena hanya memerlukan modal yang kecil (Riyanto, 1986: Soendjito, 1990).

Penyilangan Puyuh:

Bibit puyuh dapat diperoleh dengan penyilangan antara induk puyuh dan pejantan yang keduanya berkualitas unggul. Sifat keunggulan induk puyuh dan pejantan tersebut diwariskan kepada keturunannya lewat kode genetik yang terdapat dalam asam nukleat deoksiribosa (DNA) yang terangkai menjadi kromosom. Keturunannya akan mewarisi berbagai sifat dan induk dan pejantannya masing-masing 50% (Harti, 1991; Suryo, 1995).

Induk puyuh dan pejantan tersebut harus diseIeksi dengan benar, sehingga akan menghasilkan keturunan yang seragam dan murni. Kriteria untuk seleksi ini meliputi: tidak ada hubungan darah, sudah dewasa kelamin, fisik kuat dan sehat, produksi telurnya atau mating rate-nya tinggi (Hartl, 1991; Listyowati dan Roospitasari. 1991; Rasyaf, 1983; Suryo. 1995).

Setelah memperoleh induk puyuh dan pejantan yang berkualitas unggul. maka langkah berikutnya adalah menyilangkannya. Pcnyilangan puyuh mcnggunakan prinsip genetika, yakni X-linked inheritance menggunakan induk puyuh dan pejantan yang berbeda warna bulunya. sehingga dapat mudah mcnentukan jenis kelamin bibitnya dengan cepat dan akurat (Hartl, 1991; Suryo. 1995).

Dan penyilangan tersebut di atas akan didapatkan telur. Telur tersebut selanjutnya akan ditetaskan untuk menghasilkan bibit puyuh. Telur tersebut di seleksi berdasarkan kriteria; fertil, umur kurang dari 14 hari, ukuran normal, bentuk tidak bulat atau oval dan bersih (Imanah dan Maryam, 1996; Miller dan Wilson, 1976; Rasyaf, 1983; Sudaryani, 1996).

Penetasan telur puyuh dapat mencapai hasil yang maksimal bila memperhatikan beberapa faktor, meliputi: sanitasi, suhu, kelembaban dan mesin penetas serta pemutaran dan peneropongan telur (lmanah dan Maryam, 1996; Listyowati dan Roospitasari, 1997; Soedjarwo, 1999).

Keunggulan bibit puyuh yang dihasilkan dan penetasan di atas dapat dievaluasi dengan beberapa parameter, di antaranya kebutuhan pakan dan produksi telur. Kedua parameter ini diukur sctelah puyuh tumbuh maksimal dan mencapal fase konstan (plateau) (Ariana dkk., 1999; Purwantoro dkk., 2000; 2001 dan 2002).

Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang akan dicapai dari kegiatan penyilangan puyuh Jepang ini secara spesifik adalah menghasi[kan bibit puyuh yang berkualitas unggul dengan kriteria:

  • produksi telurnya Iebth tinggi
  • angka kcmatiannya lebih rendah
  • mudah menentukan jems kelamin
  • postur tubuhnya lebib kecit dibandingkan dengan induk dan/atau pejantan puyuh.

Manfaat kegiatan Pencrapan Ipteks ini bagi khalayak sasaran (terutama pengusaha pembibitan puyuh) setelah kegiatan selesai, ditinjau dari:

Sisi Ekonomi:

  • semakin banyak telur fertil yang ditetaskan,
  • semakin cepat menjual bibit puyuh betina yang harganya 3-4 kali lebih mahal dibanding yang jantan.
  • semakin menghemat kebutuhan pakan karena lebih cepat diketahui jenis kelaminnya dan dikarenakan postur tubuh yang lebih kecil.

Sisi Ipteks:

  • diterapkan metode untuk pembentukan galur murni untuk induk puyuh dan pejantan,
  • diterapkan metode untuk pemilihan telur yang fertil dengan benar,
  • diterapkan metode penyilangan puyuh yang benar berdasar pnnsip genetika,
  • diterapkan metode penentuan jenis kelamin bibit puyuh yang lebih cepat.

METODE

Bibit puyuh yang unggul hanya dapat diperoleh dengan menyilangkan induk puyuh dan pejantan yang keduanya berkualitas unggui. Sifat keunggulan induk puyuh dan pejantan tersebut diwariskan kepada kcturunannya

lewat kode genetik yang terdapat dalam asam nukleat deoksiribosa (DNA) yang terangkai menjadi kromosom. Keturunannya akan mewarisi berbagai sifat dan induk dan pejantannya masing-masing 50% (Hartl, 1991; Suryo, 1995).

Untuk memecahkan masalah seperti tersebut di atas, maka dapat direalisasikan suatu kegiatan yang terdiri atas beberapa tahapan, yakni:

  • Pemilihan induk puyuh dan pejantan dengan benar, meliputi: tidak ada hubungan darab, bergalur murni, sudah dewasa kelamin, fisik kuat dan sehat, produksi telur dan mating rare–nya tinggi (Haiti, 1991; Listyowati dan Roospitasari, 1997; Rasyaf, 1983; Suryo, 1995).
  • Pemilihan telur yang akan ditetaskan Secara benar, mencakup; telur harus fertil, umur telur kurang dart 14 han, ukuran telur normal, bentuk telur tidak bulat atau oval, kebersihan telur (lmanah dan Maryam, 1996; Miller dan Wilson, 1976; Rasyaf, 1983; Sudaryani. 1996).
  • Penetasan telur dengan benar meliputi: sanitasi, suhu, kelembaban dan mesin penetas serta pemutaran dan peneropongan telur (Imanah dan Maryam, 1996, Listyowati dan Roospitasari, 1997; Soedjarwo, 1999).
  • Prinsip genetika berupa X-linked inheritance dapat diterapkan untuk menyilangkan puyuh Jepang yang berbeda warna bulunya, sehingga akan mudah dalam menentukan jenis kelamin bibitnya (Haiti, 1991; Suryo, 1995).
  • Penyilangan antara puyuh Jcpang jenis albino dengan puyuh Jepang berbulu coklat muda dilakukan untuk mendapatkan puyuh berpostur tubuh sedang dan produksi telurnya tctap tinggi (Grzimek, 1972; Listyowati, 1997; Sudaryanti dan Santosa, 1999).
  • Evaluasi kebutuhan pakan dan produksi telur dilakukan dengan benar pada saat bibit puyuh melewati pertumbuhan maksimum dan telah konstan (Ariana dkk., 1999; Purwantoro dkk., 2000, 2001 dan 2002).

Khalayak sasaran pada kegiatan ini dipilih atas dasar kriteria yang strategis (mampu dan mau) serta dapat menyebarluaskan hasil kegiatan ini pada anggota khalayak sasaran yang lain. Berdasarkan kriteria tersebut di atas, maka sasaran yang dilibatkan pada kegiatan penyilangan puyuh Jepang ini adalah perusahaan pembibitan puyuh milik Bapak Hidayatulloh yang berlokasi di Kelurahan Jejeran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul dan milik Bapak Gandung yang berlokasi di Kclurahan Suryodi n ingra tan, Kecamatan Mantrijeron, Kotamadya Yogyakarta. Kedua tempat pembibitan tersebut berada di propinsi DIY.

Metode yang digunakan pada kegiatan ini secara garis besar adalah sebagai berikut:

  • Seleksi induk puyuh dan pejantan yang bergalur murni dan tempat pembibitan terpisah untuk menghindari inbreeding.
  • Seleksi induk puyuh dan pejantan yang berkualitas unggul.
  • Seleksi telur puyuh yang fertil dengan benar.
  • Penyilangan puyuh dengan benar.
  • Penentuan jenis kelamin bibit puyuh dengan cepat.
  • Evaluasi kebutuhan pakan dan produksi telur dengan cermat

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyilangan Puyuh

Pada kegiatan ini puyuh disilangkan menggunakan prinsip genetika berupa X-linked inheritance pada puyuh Jepang yang berbeda wama bulunya. Hal ml sesual pendapat Hartl (1991) dan Suryo (1995). sehmgga akan mudah dalam menentukan jenis kelamin bibitnya.

Pada kegiatan ml disilangkan antara puyuh Jepang jenis albino dengan puyuh Jepang berbulu cokiat muda. Hal ini dilakukan agar diperoleh bibit puyuh berpostur tubuh sedang dan produksi telurnya tetap tinggi seperti dikemukakan oleh Grzimek (1972); Listyowati dan Roospitasari (1997); serta Sudaryani dan Santosa (1999).

Induk Puyuh dan Pejantan

Pada kegiatan ini digunakan induk puyuh dan pejantan masing-masing sebanyak 40 dan 10 ekor, yang dipilih secara acak dan peternakan mitra kerja dengan memperhatikan berbagai faktor penyilangan puyuh tersebut di atas.

Kepada puyuh tersebut kemudian dilakukan adaptasi selama 2 minggu. Dan hasil pengamatan saat adaptasi dan recording peternakan, diperoleh hasil sebagai berikut: kemurniannya 95%, produksi telurnya 81%, mating rate-nya 9 kali/hari, sehingga puyuh tersebut memenuhi syarat sebagai induk puyuh dan pejantan karena memenuhi kriteria yang dikemukakan oleh Hartl (1991); Listyowati dan Roospitasani (1997); Rasyaf (1983); serta Suryo (1995).

Telur Puyuh

Telur yang diproduksi oleh induk puyuh dipilih yang fertil agar dapat menghasilkan bibit puyuh bila ditetaskan. Kriteria lainnya dalam pemilihan telur ini adalah umur kurang dari 14 hari, ukuran normal, bentuk tidak bulat atau oval serta bersih sesuai pendapat Imanah dan Maryam (1996); Miller dan Wilson (1976); Rasyaf (1983); serta Sudaryani (1996). Pada kegiatan ini telur fertil yang diproduksi mencapai 83%.

Penetasan Telur

Telur fertil yang dihasilkan kemudian ditetaskan menggunakan mesin tetas. Pada kegiatan ini proses penetasan telur dilakukan mengikuti teknik yang benar, dengan memperhatikan faktor sanitasi, suhu, kelembaban dan mesin penetas, serta pemutaran dan peneropongan telur seperti yang dianjurkan oleh Imanah dan Maryam (1996); Listyowati dan Roospitasan (1997); serta Soedjarwo (1999). Pada kegiatan ini keberhasilan penetasan puyuh mcncapai 93%.

Bibit Puyuh

Bibit puyuh yang diperoleh dan hasil penetasan kcmudian dilakukan sexing. Pada kegiatan ini tingkat keakuratan penentuan jenis kelamin tersebut mencapai 87%.

Bibit puyuh yang berkelamin betina selanjutnya dibudidayakan sampal dewasa untuk diamati konsumsi pakannya dan produktivitas telurnya.

Produktivitas puyuh

Pada kegiatan ini puyuh betina diamati produktivitas telur dan konsumsi pakannya setelah melewati fase plateau. Puyuh tersebut hanya mengkonsurnsi pakan 23,68 g/hari. dan produktivitas telurnya rnencapai 83%, Sehingga berbeda nyata (P<0,05) bila dibanding dengan induknya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pada kegiatan ini telah berhasil disilangkan antara puyuh Jepang jenis albino dengan puyuh Jepang berbulu cokiat muda menggunakan prinsip X-linked inheritance. Induk puyuh dan pejantan yang digunakan mempunyai kemurnian 95%, produksi telur 81% dan mating rate-nya 9 kali/hari. Keberhasilan penyilangan puyuh ml mencapal 93%, dengan telur fertil yang diha.silkan sebanyak 83%, serta keakuratan penentuan jenis kelarnin bibitnya sampai 87%. Puyuh betina yang telah mencapal fase plateau hariya mengkonsumsi pakan 23,68 g/hari dan produktivitas telurnya mencapai 83%, sehingga berbeda nyata (P<0,05) bila dibanding dengan induknya.

Saran

Keberhasilan penyilangan puyuh tersebut perlu ditindakianjuti dengan produksi bibit dalarn jumlah yang besar, sehingga peternak akan meningkat pendapatannya karcna konsumsi pakannya lebih sedikit. tetapi produktivitas tclurnya lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, H.R. (1995). Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Jakarta: Gramedia.

Ariana, Purwantoro, A. dan Pangestiningsih. T.W. (1999). Pakan Alternatif Puyuh di Saat Krisis Monerer. Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi tahun 1999-2000. Jakarta: Dirjen Dikti.

Dark, J. (1985). Quail Raising 2: Growing and Processing. Melbourne: Department of Agriculture.

Ditjennak (Direktorat Jenderal Peternakan). (1999). Buku Statistik Peternakan 1999. Jakarta: Ditjennak RI.

Grzimek, B. (1972). Animal Life Encyclopedia. New York: van Nostrand Reinhold.

Hartl, D.L. (1991). Basic Genetics 2 ed. Boston: Jones and Bartlett.

Imanah dan Maryam. (1996). Pembuatan Mesin Tetas dengan Cahaya Matahari dan Pemeliharaan Ayam. Pekalongan: Bahagia.

Kusumah. N. (1987). Telur Puyuh Baik untuk Orang yang Diet Kolesrerol. Poultry Indonesia no. 20.

Listyowati, E dan Roospitasari. K. (1997). Puyuh, Tata Laksana Budidaya secara Komersial. Jakarta: Penebar Swadaya.

Miller E.R dan Wilson, H.R. (1976). Selecting Fertile Quail Eggs. Pultry Sci. 55: 2476.

NRC (National Research Council). (1984). Nutrient Requirements of Poultry, 6 ed. Washington D.C.: National Academy Press.

Purwantoro, A. (2000). Pengaruh Penambahan Pro biotik pada Pakan Puyuh terhadap Kadar Amonia dan Sulfida Faeces serta Produktivitas Puyuh (Coturnix coturnix japonica). Laporan Penelitian Yogyakarta: DIKS UGM

Purwantoro, A. (2001). Pengaruh Kadar Protein Pakan terhadap Produktivitas Puyuh Jepang. Laporan penelitian. Yogyakarta: DIKS UGM.

Purwantoro, A., T. Susmiati. R. Widayanti, A. Haryanto dan Ariana. (2001). Penggabungun Kandang Puyuh Fase Grower dan Finsher. Proyek Pengabdian Masyarakat. Yogyakarta: UGM.

Purwantoro. A. (2002). Beternak Puyuh secara Komersial. Modul pelatihan kewirausahaan. Yogyakarta: LPM UGM.

Rahardja, P.C. (1987). Beternak Puyuh. Jakarta: Penebar Swadaya.

Randall. M.C. (1986). Raising Japanese Quail. Seven Hills: NSW Dept of Agriculture.

Rasyaf, M. (1989). Memelihara Burung Puyuh, Yogyakarta: Kanisius.

Riyanto, S. (1986). “Masa depan perkembangan burung puyuh di Indonesia”. Ayam dan Telur no. 4

Soedjarwo, E. (1989). Membuat Mesin Tetas Sederhana. Jakarta: Penebar Swadaya.

Soendjito. (1990). “Puyuh lebih menguntungkan”. Ayam dan Telur no. 51.

Sudaryani, T. (1996). Kualitas Telur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Suryo, H. (1995). Genetika. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.

Sutoyo, M.D. (1989). Petunjuk Praktis Beternak Puyuh. Jakarta: Titik Terang.

Vohra, P. (1971). “A review of the nutrition of Japanese quail”. Worlds Poultry Sci Journal, 1: 26-33.

laporan penkom nih

December 28, 2009

MK. Penerapan Komputer               Nama   : Fuqan

                                                                    NIM    : D14070020

                                                                   Dosen  : Ir. Rini H. Mulyono,M.Si

                                                                   Asisten : Revan maulana

                                                                  Nilai    :

Statistik parametrik (Korelasi Pearson, Regresi Linear

dan koefisien korelasi Spearman)

 

 

  

 

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

Langkah-langkah Praktikum

Bila hasil perhitungan data (lama dan produksi) memenuhi asumsi analisis keragaman; maka dapat dilanjutkan dengan Uji Korelasi Pearson.

Uji korelasi pearson dapat menggunakan software minitab 15. Adapun langkah-langkahnya, yakni; buka statistic 15, masukan data;sorot stat pilih basic statistics dan klik correlation. Selanjutnya pada variables, sorot C2 dan C3, dan klik select sehingga akan muncul C2 dan C3 pada variables. Kemudian klik pada kotak Display p-value; sampai tertera tanda  , klik OK. Pada hasilperhatikan nilai korelasi pearson, berikut nilai p-nya, dan kesimpulan pun bisa ditarik. Data yang telah diolah tersebut dapat langsung di Save atau di masukan dalam dalam Word Document.

Pengujian regresi data dapat dilakukan juga dengan menggunakan StatistiX 8.0. langkahnya Uji Regresi. Langkah-langkahnya yakni : buka stat sorot regression dan pilih regression. Pada responses, pasok C3 sedangkan C2 dimasukan dalam Predictors dan klik OK. Data hasil olahan tersebut dapat langsung di Save dan digunakan pada Microsoft Word, serta dengan data itu pula dapat ditarik kesimpulan.

Pengujian di atas dilanjutkan dengan sorot Statistics, pilih Linear models dan klik Correlation (Pearson); pada kotak dialog Correlation (Pearson) klik LAMA,klik tanda panah arah kanan, dan klik PRODUKSI, dan klik panah araqh kanan; klik OK. Kemudian Beri tanda ( ) pada Fit Constant dan Compute P-Value. Klik OK. Pada lembar olahan data akan muncul hasil, apabila nilai koefisien korelasi (p) P<0.05, menunjukan adanya korelasi antara sifat lama dan jumlah produksi mesin dan dapat dilanjutka pada pengujian regresi. Sebaliknya, bila nilai P>0.05 maka hal ini menunjukan tidak adnya korelasi antara ke-2 sifat tersebut dan tidak dilanjutkan dengan pengujian regresi.

Selanjutnya, pengujian regresi diteruskan dengan menggunakan: Sorot Stastiscs, pilih Linear Models dan pilih LinearRegression. Pada kotak dialog, Linear Regression; pada variables, sorot PRODUKSI; di Dependent variable, klik tanda panah arah kanan; kembali ke Variable, sarot LAMA; di independent Variable, klik tanda panah arah kanan. Kemudian beri tanda  pada Fit Constant. Klik OK. Pada lembar olahan data akan tampil hasil. Nilai lonstanta (a) dan koefisien regresi (b) diperoleh. Persamaan hasilpun aoat dibuat. Hasil olahan juga menampilkan table analisis regresi. Data tersebut dapat di Save ataupun dapat di kopi ke minitab 15.

Hal penting lain yang diperlukan dalam pengolahan dat yakni mencari koefisien korelasi Spearman(rs). Langkah pengolahan dengan menggunakan MINITAB 15 yakni; buka minitab 15, masukan data misalnya data ketangkasan jari dan kemampuan pekerja. Pada C1 masukan Pekerja, C2 masukan data ketangkasan jari dan kemampuan mekanikal pada C3. Kemudian klik data dan pilih rank; di rank data in, sorot C2 dan klik select sedangkan di store rank in ketik C4 dan klik OK. Selanjutnya klik data dan pilih rank; di rank data in, sorot C3dan klik select sedangkan di store rank in ketik C5 dan klik OK.

Kemudian pusatkan perhatian pada Worksheet; pada C4 dan C5 telah muncul rank (peringkat). Selanjutnya, sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik C6 dan pada kolom expression sorot C4  pilih select dan klik tanda – dan sorot C5 pilih select dan klik OK. Berikutnya sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik C7 dan pada kolom expression sorot C6  pilih select dan klik tanda * dan sorot C6 pilih select dan klik OK. Kemudian sorot Calc dan pilih Column Statistics, pada Statistics klik Sum dan di input Variablenya sorot C7 klik select sedangkan pada Store Result in ketik K1 dan klik OK. Perhatikan session, dan terdapat nilai K1. Perhatikan pula pada Worksheet terdapat C6 dan C7.

Selanjutnya , sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k2 dan pada kolom expression klik tanda 6 dan klik pula tanda * dan sorot k1 pilih select dan klik OK. Kemudian, sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k3 dan pada kolom expression klik tanda 8 dan klik pula tanda * dan klik tanda 8 dan klik OK. Berikutnya, sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k4 dan pada kolom expression sorot k3 dan klik tanda – dan klik tanda 1 dan klik OK. Setelah itu, sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k5 dan pada kolom expression sorot k4 klik select dan klik pula tanda * dan  kill tanda 8 dan klik OK. Hal yang sama, sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k6 dan pada kolom expression sorot k2, pilih select dan klik pula tanda / dan sorot k5 pilih select dan klik OK. Selanjutnya , sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k7 dan pada kolom expression klik tanda 1 dan klik pula tanda – dan sorot k7 pilih select dan klik OK.

Selanjutnya amati tampilan data dengan menyorot Data dan pilih Display data sorot k2-k7 klik select dan OK. Perhatikan pula session yang terdapat nilai k1-k7 yang dimana k7 merupakan nilai korelasi Spearman(rs).

Kemudian dilanjutkan dengan uji t, langkahnya meliputi; sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k8 dan pada kolom expression klik tanda 8 dan klik pula tanda – dan klik tanda 2 pilih select dan klik OK. Selanjutnya , sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k9 dan pilih square root pada function  dan pada kolom expression muncul SQTR (number) dan ganti number dengan k8 dan klik OK. Kemudian sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k10 dan pada kolom expression sorot k7 dan klik pula tanda* dan sorot k 9 dan klik OK. Berikutnya sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k11 dan pada kolom expression sorot k7 dan klik pula tanda * dan klik k7 pilih select dan klik OK. Berikutnya sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k12 dan pada kolom expression klik tanda 1 dan klik pula tanda – dan klikk11 pilih select dan klik OK. Kemudian Selanjutnya , sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k13 dan pilih square root pada function  dan pada kolom expression muncul SQTR (number) dan ganti number dengan k12 dan klik OK. Berikutnya sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k14 dan pada kolom expression sorot k10 dan klik pula tanda / dan klik k13 dan klik OK.

Selanjutnya amati tampilan data dengan menyorot Data dan pilih Display data sorot k8-k14 klik select dan OK. Perhatikan pula session yang terdapat nilai k8-k14 yang dimana k14 merupakan nilai t. Kemudian buka table t (0.05/2)n=8 pada buku statistika, tentukan daerah kritisnya. Bandingkan k14 dengan daerah kritis tersebut, dan tariklah kesimpulan.

Kemudian sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k15, pada kolom expression klik tanda 8;+;1 dan klik OK. Berikutnya sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k16 dan pada kolom expression ketik tanda 1;-;sorot k7 dan klik select dan klik OK. Kemudian sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k17 dan pada kolom expression sorot k16 dan klik select dan klik tanda /;2 dan klik OK. Kemudian sorot Calc dan pilih calculator, pada Store Result in Variable ketik k18 dan pada kolom expression sorot k15 dan klik pula tanda* dan sorot k 17 dan klik select dan OK.

Selanjutnya amati tampilan data dengan menyorot Data dan pilih Display data sorot k15-k18 klik select dan OK. Perhatikan pula session yang terdapat nilai k15-k18 yang dimana k18 merupakan nilai a. Kemudian buatlah persamaan regresi Y=a+bX

LAMPIRAN

KORELASI dan REGRESI (Lama Penggunaan Mesin dan Kuantitas Produksi)

Welcome to Minitab, press F1 for help.

* NOTE * Command canceled.

Correlations: Lama; Kuantitas

 

Pearson correlation of Lama and Kuantitas = 0,981

P-Value = 0,000                              

Hubungan korelasi antara lama dengan kuantitas berkorelasi positif (+1)sangat kuat  dan berkorelasi nyata karena P-value<0.05.

Regression Analysis: Kuantitas versus Lama

 

The regression equation is

Kuantitas = – 11,1 + 9,73 Lama

Setiap satu satuan kenaikan Lama akan menaikkan satu satuan kuantitas produksi

Predictor     Coef  SE Coef      T      P

Constant   -11,125    5,010  -2,22  0,057

Lama        9,7321   0,6781  14,35  0,000

S = 5,07423   R-Sq = 96,3%   R-Sq(adj) = 95,8%

Proporsi keragaman antara variable x terhadap y bias diterangkan secara linear sebesar 96,3% dan sisanya 3,7%  diterangkan oleh hal lain. R-Sq (adj) merupakan nilai yang sudah dikoreksi atau disesuaikan oleh computer.

DF derajat bebas

SS JK

MS KT

Analysis of Variance

Source          DF      SS      MS       F      P

Regression       1  5304,0  5304,0  206,00  0,000

Residual Error   8   206,0    25,7

Total            9  5510,0

Statistix 8.0   

Unweighted Least Squares Linear Regression of KUANTITAS 

Predictor

Variables   Coefficient   Std Error         T         P

Constant       -11.1250     5.01040     -2.22    0.0571

LAMA            9.73214     0.67807     14.35    0.0000

R-Squared           0.9626      Resid. Mean Square (MSE)    25.7478

Adjusted R-Squared  0.9579      Standard Deviation          5.07423

Source        DF        SS        MS        F        P

Regression     1   5304.02   5304.02   206.00   0.0000

Residual       8    205.98     25.75

Total          9   5510.00

Cases Included 10    Missing Cases 0

KELAS LAMA  KUANTITAS

1     2     10

1     4     20

2     6     50

2     6     55

2     8     60

2     8     65

2     8     70

3     9     75

3     9     80

3     10    85

Statistix 8.0                                              

Correlations (Pearson)

             LAMA

KUANTITAS  0.9811

  P-VALUE  0.0000

Cases Included 10    Missing Cases 0

Lama dan Produksi berkorelasi positif (+1) dan nyata karena P-Value<0,05

KORELASI dan REGRESI (Ketangkasan Jari dan Kemampuan Mekanikal)

 

Welcome to Minitab, press F1 for help.

Data Display

 

              Ketangkasan  Kemampuan

Row  Pekerja         jari  mekanikal

  1  a                  1          2

  2  b                  2          1

  3  c                  3          8

  4  d                  3          2

  5  e                  3          2

  6  f                  6          6

  7  g                  7          6

  8  h                  8          5

Sum of C7

 

Sum of C7 = 32,5

Data Display

 

K2    195,000

Data Display

 

K3    64,0000

K4    63,0000

K5    504,000

K6    0,386905

Data Display

 

K7    0,613095

K7 merupsksn nilai korelasi spearman (rs)

Nilai t hitung adalah k14

Data Display

 

K8     6,00000

K9     2,44949

K10    1,50177

K11    0,375886

K12    0,624114

K13    0,790009

K14    1,90095

nilai t hitung adalah K14

Data Display

 

K15    9,00000

K16    0,386905

K17    0,193452

K18    1,74107

Y= a+bX

Y= 1,74+0,61X

Setiap penambahan ketangkasan satu satuan akan meningkatkan nilai kemampuan mekanikal satu satuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hello world!

December 28, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!